Dua minggu setelah hari kelahiran, pasangan suami-istri itu pergi kerumah orang tuanya di Kota Pahlawan. Melawan pakem adat tentang pantangan berpergian dengan bayi berumur dibawah 40 hari, keduanya nekat. Istilahnya setor cucu, sebuah kebiasaan lucu di keluarga si ibu yang tujuh bersaudara, karena jika ia pulang kampung tanpa membawa cucu, otomatis sang nenek akan mengusirnya sambil berkata "buat apa kamu kesini kalau tidak membawa cucu, pulang saja sana!". Tentu saja hardikan itu hanya sebuah ungkapan kesal yang berdasar perasaan sayang.
Siang itu si ayah melaksanakan sholat di masjid yang berlokasi tepat di samping rumah. Demi melihat suaminya pulang dari masjid, sang ibu teringat akan sesuatu. Yakni rama-nya (ayah) yang juga biasa melaksanakan sholat di masjid itu. Seketika itu juga ia melantunkan doa untuk sang rama yang telah lama berpulang. Dia teringat betapa rama mencintai masjid itu hingga akhir waktunya. Atas usaha dan pengorbanannya semasa hidup, warga sekitar menyematkan namanya di masjid itu. Nama masjid tersebut adalah Masjid Istikmal, istikmal yang berarti "Ismail dan Sutikno beramal".
Ingatan itu memicu suatu reaksi dalam benak sang ibu. Dalam hati ia mengucap syukur sebanyak-banyaknya atas apa yang ada disekitarnya. Atas karunia anak pertama perempuan yang kini berusia tiga tahun dan ia beri nama Anisa, dan anak kedua laki-laki yang menjadi penyempurna (pelengkap) yang akhirnya ia beri nama Muhammad Istikmal.